“Nin shi laoshi ma?”

Posted 13 April 2007 by jeterna
Categories: bahasa, bahasa mandarin

Pelajaran berikutnya adalah tentang “apakah Anda guru?”.

B: Nin hao. Qing wen, nin shi laoshi ma?(halo.‘numpang tanya‘, apakah Anda guru?)

A: Shi. Wo shi laoshi. Ni ne?(=Iya. Saya adalah guru. ‘kalau‘ kamu?)

B: Wo shi xuesheng. (=Saya adalah pelajar.)

———————————

C: Qing wen, ni shi Ali ma?(=numpang tanya/permisi, apakah kamu Ali?)

D: Bu shi. Wo shi Amir.(=Bukan. Saya adalah Amir.)

C: Dui bu qi. (=maaf)

D: Mei guanxi. (=tidak apa-apa)

————————————-

A: Ni jiao shenme mingzi? (=Nama kamu siapa?)

B: Wo jiao Erna. Ni ne? (=Saya bernama Erna, ‘kalau’ kamu?)

A: Wo jiao Erni. (=Saya bernama Erni.).

B: Hen gaoxing renshi ni. (=Senang sekali mengenal kamu/nice to meet you.)

A: Wo ye hen gaoxing renshi ni. (=Saya juga sangat senang mengenal kamu.)

B: Zaijian. (=Sampai jumpa)

A: Zaijian. (=Sampai jumpa)

Ni hao or Ni hao ma?

Posted 9 Maret 2007 by jeterna
Categories: bahasa mandarin

Halo

Ni hao! ini adalah sapaan seperti “halo” atau “hi” dalam bahasa Mandarin. Sedangkan “ni hao ma?” adalah pertanyaan yang menanyakan kabar seperti “apa kabar?” yang memerlukan jawaban. Contoh:

A: Ni hao.

B: Ni hao.

A: Ni hao ma?

B: Wo hen hao. Xie xie. (Saya baik, terima kasih).

Itu saja beda antara ni hao & ni hao ma?

*kosakata

1. ni = kamu

2. hao = baik

3. w0 = saya

4. ma = partikel tanya ‘apakah’

5. hen = ’sangat’, menerangkan kata sifat.

6. xiexie = terima kasih

Kursus Mandarin di Taibei

Posted 28 Februari 2007 by jeterna
Categories: bahasa mandarin

Sedikit informasi untuk teman-teman yang ingin belajar Mandarin di Taiwan, khususnya di kota Taibei. Berikut adalah beberapa link website language center yang cukup ternama di Taiwan.

1. Mandarin Training Center of National Taiwan Normal University (nama mandarin sekolah ini y.i Shida)

Sekolah bahasa ini jumlah mahasiswa asingnya terbanyak dibandingkan sekolah bahasa lain, dan cukup terkenal di Taiwan. Banyak siswa asal Indonesia tertarik belajar di Shida, mungkin karena lokasi yang strategis berada di pusat kota, atau karena alasan lain?

2. Language Training Center of National Chengchi University (Zhengzhi Daxue/Zhengda)

Sekolah bahasa ini sangat jarang siswa Indonesia-nya, mungkin karena letaknya yang jauh dari pusat kota, dan lokasi kuliah yang berada di atas bukit sehingga memungkinkan untuk ‘mendaki’ bukit setiap hari jika pergi kuliah. Hehehe..tapi hikmahnya bisa bugar dan terhitung olahraga otomatis karena hampir jalan terus tiap hari.Saya pernah belajar di kampus itu selama setahun, jadi terasa gimana ‘lelahnya’ hihihi..

3. Mandarin Learning Center of Chinese Culture University (Zhongguo Wenhua Daxue)

Di sini siswa Indonesia juga banyak, tapi dari keseluruhan jumlah siswa asing, Shida tetap terbanyak. Uang SPP di pusat bahasa ini lebih murah sedikit dari kedua sekolah di atas. Lokasi kampus berdekatan dengan Shida, cukup strategis juga.

4.Tamkang University Chinese Language Program (Danjiang Daxue)

Lokasi kampus bahasa terletak di belakang kampus Shida. Selain Shida dan Wenhua Daxue, kampus ini pun cukup diminati siswa asal Indonesia.

5. The Language Center of Fujen Catholic University

Lokasinya jauh dari pusat kota Taibei, yaitu di Xinzhuang.

6. International Chinese Language Program of National Taiwan University (Taida)

Mengenai sekolah bahasa di NTU, saya hanya bisa kasih info bahwa biaya kursus di situ menggunakan dolar US per term sekitar USD 3700. Mengapa mahal? Tentunya sistem pengajaran mandarinnya juga berbeda dari lainnya, siswa per kelas maximal 4 orang, dan biasanya yang masuk sini kebanyakan dari AS. Tuntutan pengajar ke siswa juga lebih ketat, sehingga siswa pun harus memiliki motivasi tinggi untuk menguasai Mandarin dengan fasih. Selain belajar bahasa, juga didekatkan pada pengenalan budaya ataupun karya sastra Cina tentunya dengan perantara mandarin. So, selain mahir bahasa, nilai plusnya anda mungkin akan hafal dan lebih menguasai beberapa puisi2 Cina klasik ataupun idiom-idiom bahasa Cina.

Bahasa-ku

Posted 3 Februari 2007 by jeterna
Categories: ceritaku

Salam
Sudah lama tak isi blog di sini lagi. Sekedar intro setelah lama menghilang karena kesibukan lain saya ingin mengatakan bahwa di Taiwan saat ini sedang musim dingin. Kegiatan baru saya saat ini adalah belajar bahasa Arab. Seminggu dua kali di mesjid besar Taipei. Yang mengajar seorang imam keturunan Thailand tapi mengajar dengan perantara Mandarin. Bahasa ibu saya adalah bahasa Indonesia, untuk mempelajari bahasa asing dengan perantara bahasa asing lainnya otak saya mesti dibagi tiga bagian, yaitu bahasa ibu, bahasa perantara, dan bahasa yang dipelajari/bahasa tujuan.
Sebelum bahasa Arab, saya rutin setiap minggu dengan dua teman sekolah belajar bahasa Itali. Gurunya adalah teman sekelas saya sendiri yang asli berasal dari P.Sisilia Italia dan tentunya dengan perantara Mandarin pula. ‘Io sono Indonesiana’.
Bicara bahasa asing, saya ingat ketika kuliah dulu juga pernah ambil mata kuliah pilihan bahasa Korea satu semester dan bahasa Jepang selama dua semester. Kalau bahasa Inggris? Pas SD saya mulai ikut-ikutan les bahasa Inggris di dekat rumah, sehingga pas SMP alhamdulillah nilai bahasa Inggris saya tidak buruk karena les itu tadi. Namun, menjelang masuk sastra Cina, bahasa inggris saya perlahan-lahan tersingkirkan dan tersesakan dengan kumpulan kosa kata mandarin. Whatever deh..Alhamdulillah sekarang bahasa Inggris saya mulai bangkit perlahan karena sering bergaul dengan teman yang tidak fasih berbahasa Mandarin sehingga mengharuskan komunikasi dengan bahasa Inggris. Di kampus dan lingkungan asrama tetap memakai bahasa Mandarin, dan kadang jika berkumpul atau chat dengan saudara setanah air saya masih menggunakan bahasa ibu saya. Bahasa Indonesia. Everyday live in three language environments. Mandarin, English, Indonesian. Huah!! pusing? no! it’s interesting!!! :) But, jika ada yang tanya mana yang lebih fasih di antara itu, saya saat ini bisa menjawab of course Indonesian and Chinese hehehehehe..teteup. (masih ada satu bahasa lagi yang saya bisa mengerti secara pasif dan mungkin bisa aktif dikit2, yaitu boso jowo ngoko hohohoho).

Belajar bahasa lain? why not? just try and you will get the new sense of that language. ;)

Wassalam

‘bye-bye’ or ‘popeye’

Posted 25 Januari 2007 by jeterna
Categories: bahasa

Kata sapaan apa yang biasa kita ucapkan dalam situasi perpisahan? Perpisahan di sini misalnya kalo kita ketemu temen di jalan terus mau pamitan beli bakso di ujung gang and ga bisa ngobrol lama-lama, ato mungkin setelah mengobrol lama dengan temen di kafe or resto fast food terus ujung-ujungnya ya mau pulang karena udah kelamaan. Di Indonesia saya sering mengucap ‘dadaaaaaaa…’ or ‘daaaaaaaaaaaaa’ (dengar2 ini serapan dr bhs Belanda?benarkah?), itu sering saya gunakan selama dua puluh tahun lebih. Atau kalau temen bicara adalah muslim, saya pakai kalimat salam. Nah, kalo sekarang ga tau ada kata sapaan lain ato ngga?

Bagaimana dengan kata ‘bye-bye’?dulu kalo menurut saya kata ‘bye-bye’ itu disampaikan jika kita ingin pisah lamaaa sekali. Oleh karena masih sering ketemu ama temen2 yang juga tetangga atopun tmn sekolah, jd jarang pakai kata ‘bye-bye’.

Di Taiwan, waktu pertama kali saya ke sini sekitar thn 2002 saya agak kaget dan bertanya-tanya. Mereka selalu bilang ‘bye-bye’ ketika berpisah. Dalam benak saya bertanya memangnya dia mau pergi jauh ya, kok ‘bye-bye’.Saya belum terbiasa rupanya. Iya, mereka menggunakan ‘bye-bye’ jika ingin berpisah dan itu lazim seperti ‘daaaaa’-nya kita org Indonesia. Hanya saja yang lucu, lafal mereka mengucapkan ‘bye-bye’ terdengar seperti kata ’popeye’..yeaaa, lidah dan pengucapan ‘b’ tidak begitu baku, sehingga terdengar seperti bunyi ‘p’. Di bahasa Mandarin pun tidak ada kata yang dilafalkan bunyi ‘b’ seperti bunyi ‘bebek’ dalam bahasa kita. Yang ada adalah ‘p’ dan ‘p’ aspiratif. So, ‘bye-bye’ or ‘popeye’? Coba kalian amati, tidak sedikit juga sih yang bisa mengucapkan lafal ‘b’ dengan fasih. Malah terkadang saya juga kena imbas ‘popeye’ denk :(

gadis kasir di kantin asrama

Posted 25 Januari 2007 by jeterna
Categories: Orang Taiwan, hari-hariku

Saya tinggal di asrama sekolah yang jauh dari sekolah. Sekolah kami memiliki dua kampus, kampus pusat dan kampus cabang namanya. Nah, asrama yang saya huni berada di kampus cabang, kalau naik sepeda ke kampus utama sekitar 15 hingga 20 menit dengan speed normal lho! :)

Suatu hari, saya berniat beli nasi putih di kantin yang terletak di lantai satu gedung asrama kami. Ketika saya mau bayar nasi yang seharga 6 NT itu (sekitar Rp.1800), si gadis kasir melihat sambil bertanya: “Kamu bukan orang Taiwan ya?”, “Bukan” jawabku. “Lalu orang mana?”,sambungnya. “Saya orang Indonesia”.”Ooo”..dia manggut-manggut seraya mengembalikan 4 koin 1 NT-an kepada saya. Saya balik ke kamar saya di lantai 10 dengan muka senyam-senyum sendiri hehehe..masakan saya seperti orang Taiwan, mudah-mudahan di waktu mendatang ada muslimah Taiwan atau mana saja yang memakai kerudung identitas muslim.

Kemarin, di tempat yang sama dan membeli barang yang sama, si gadis kasir dari kejauhan senyum melihatku. Saya balas senyumannya. Saya ambil sendiri plastik dan nasi putih di meja dekat kasir itu, lalu berniat membayar ke gadis kasir itu. Dia bersuara lagi:  “Eh, dulu kamu bilang berasal dari mana?” ternyata dia lupa saat itu. “Indonesia”, jawabku. “Kok bisa bicara Mandarin? Memang sekarang banyak orang bicara Mandarin di Indonesia ya?Kamu dulu pernah belajar Mandarin berapa lama?”,tanyanya. “Saya dulu lulusan sastra Cina, saat ini banyak orang tertarik Mandarin di Indonesia tapi masih belum banyak, namun lama-kelamaan pasti akan banyak karena sekarang Mandarin sudah menjamur. Mereka tertarik ingin belajar Mandarin karena mungkin hubungan Cina-Indonesia dalam ekonomi semakin maju atau hanya ingin karena tuntutan pekerjaan”. Pertanyaan berikutnya yang tak diduga-duga adalah: “Indonesia negaranya bagaimana?apakah miskin?apa bedanya dengan Taiwan? Saya belum pernah ke Indonesia. Setahu saya Indonesia adalah negara kepulauan”. Saya merasa perlu bercerita panjang lebar tentang negara saya, untuk sementara hanya mencoba menjawab pertanyaan dia seperti ini: “Indonesia negara besar, penduduknya 10 kali lebih banyak dari penduduk Taiwan, terdiri dari lebih 13 ribu pulau dengan area yang jauh lebih besar dari Taiwan. Tidak semua orang di Indonesia miskin.” Entah pertanyaan nya yang tentang miskin itu dilihat dari pendapatan perkapita penduduk atau sumber daya alamnya. Saya lupa menyelipkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam, hanya saja penduduknya sebagian masih dalam hidup miskin karena kesenjangan sosial di negara saya sangat mencolok tidak seperti negeri Taiwan ini. Setelah mendengar jawaban singkat saya itu, si gadis tampak kaget dan tak mengira Indonesia memiliki penduduk serta wilayah yang besar.

Sepertinya dia ingin mengobrol banyak denganku tapi ada cowok yang ingin bayar makanannya, aku pun pamit berkata semoga bisa bincang-bincang lagi di waktu lain. We’ll see next time. :-)

Fearless

Posted 23 Januari 2007 by jeterna
Categories: film

ditulis pada : February 04, 2006

Intro : Walaupun usianya tahun ini mendekati 43 tahun, sudah ngga semuda dulu waktu main film kungfu shaolin, tapi wajah yang penuh smile itu tetap kelihatan fresh (from oven kali). Gue nonton film ini sendiri karena berhubung tidak ada teman Indo yang ingin nonton di bioskop (ga tertarik krn film pakai teks n berbahasa mandarin). Ada teman Taiwan yang berbaik hati menawarkan diri untuk nemanin, tapi karena waktu yang mendesak (lebih cepat nonton lebih baik) dan karena mereka masih dalam liburan di kampung halaman masing2, jadi berangkatlah daku menuju Living Mall. Kalau biasa di Mal-mal Jakarta bioskop itu berada di lantai paling atas, beda dengan Living Mall, bioskop justru ada di lantai basement (B17)..pantes udah naik sampai lantai 4 atas ngga ada tanda-tanda cinema, tahunya di bawah. Huih..Alhamdulillah sempat beli yang pkl 11.40 (padahal belinya sdh pkl.11.49). Pas masuk Hall 6 ternyata belum mulai, alias masih iklan :p Hmmm..pengalaman pertama nonton film di bioskop alone. Mau tahu rasanya? besok coba aja pergi sendirian ke bioskop terdekat…:) He7x..gue mah asyik2 aja..wong gue sendiri yang ngotot mau nonton ntu film..kalo gini kan sdh lega.

Sabtu siang pukul 11.55 waktu Taipei, tepat film Fearless atau Huo Yuanjia (judul dalam Mandarin langsung menyebut nama tokoh utama film itu) diputar di bioskop Cinemark Living Mall (Jing Hua cheng). Sepuluh menit sebelumnya waktu beli tiket seharga 230 NT, tanpa antrian panjang, agak bingung mesti masuk ke ruangan mana. Maklum, terakhir kali datang ke sini sudah hampir 3 tahun yang lalu. Akhirnya bisa juga nonton tepat waktu walaupun di tiket ditulis pukul 11.40, tapi biasanya muncul film-film iklan dulu sebelum film utama. Ya, dulu pertama kali datang ke pulau ini, pernah nonton sekali di bioskop ini bersama teman-teman ekskul kungfu. Waktu itu kita nonton Charlie’s Angel 2. Kali kedua datang ke pulau ini, Fearless jadi film pertama yang gue tonton sejak lima setengah bulan datang ke Taipei.

Huo Yuanjia yang diperankan Jet Li merupakan tokoh legendaris Cina awal abad 20. Ia jago beladiri wushu, sering bertanding demi mendapatkan piagam juara satu se-Tianjin yang tak terhitung berapa kali jumlahnya. Film ini didominasi oleh duel-duel antara Jet Li dan tokoh lawan mainnya. Iyalah, wong aktornya aktor laga, kalau temanya dramatis mendayu-dayu bukan film khas Jet Li donk :p

Kesan setelah nonton film ini, sebenarnya kalau dilihat dari segi cerita, jangan berharap dapat alur cerita yang sempurna, karena hampir seluruh cerita diwarnai pertarungan Jet Li dalam duel pertandingan yang ada di jaman itu. Intinya kalau sedang lihat film-film Jet Li, lihatlah akting beladirinya. Itu yang sudah pasti top. Kalau isi cerita, banyak nilai-nilai yang bisa diambil terutama pemahaman dan karakter yang harus dimiliki seorang ahli wushu ketika mengikuti sebuah kompetisi beladiri. Apa sebenarnya yang mendasari seseorang berlatih wushu?Jet Li berucap ada tiga hal penting makna latihan wushu : melatih tubuh, melatih akal pikiran dan melatih moral.

Pertarungan-pertarungan awal yang diikuti Huo Yuanjia waktu ia belum menemukan makna kompetisi beladiri sesungguhnya, cuma didasari atas ambisi dan ego balas dendam. Setelah keluarga yang dicintainya dibunuh akibat sikapnya yang ceroboh dan melebihi batas hanya demi membalas dendam muridnya, dia mulai sadar bahwa kebencian dan dendam tidak akan ada akhirnya, orang yang dicintai pun bisa jadi korban.

Akhirnya, ia terdampar di suatu daerah (kurang jelas maksudnya kenapa mesti ada cerita terdampar di perkampungan. Karena di situ yang menonjol cuma kisah Jet Li n aktris cantik yang berperan sebagai cewe tunanetra). Habis terdampar, dia balik ke daerah asalnya lagi untuk mengunjungi makam keluarganya, pun sempat mengunjungi keluarga almarhum lawannya yang meninggal di tangannya dulu.

Yang biasanya dulu kalau habis menang tanding dan waktu menjamu tamu minum arak, setelah balik Huo Yuanjia jadi lebih suka teh (hmmm..cara mengganti kebiasaan yang bagus bagi mereka yang biasa minum arak). Ada lagi yang bisa diambil maknanya waktu nonton film ini. Yaitu setiap kompetisi beladiri tidak ada tingkatan tinggi dan rendah, tidak ada kalah dan menang, tidak ada kuat dan lemah, hanya kita saja yang membuat standarisasi seperti itu. Pertandingan beladiri sebenarnya untuk mengukur dan mengenali kelemahan diri sendiri, bukan mencari kelemahan lawan, karena musuh terbesar ketika bertanding adalah bagaimana mengendalikan ambisi pribadi.

Oh ya, waktu kecil Jet Li punya teman seperjuangan yang dihutanginya waktu traktir pesta arak di kedainya. Di pertandingan terakhir kali, ia sempat meminjam uang sama temannya itu. Temannya seorang pengusaha, dulu sering berkali-kali mengingatkan Huo Yuanjia agar tidak perlu bertarung demi menjadi jawara nomor satu. Namun, kali ini ia berani meminjamkan uang karena pertarungannya membawa nama bangsa Cina di mata dunia. Huo Yuanjia terakhir bertanding dengan seorang ahli beladiri Jepang yang pernah menjamunya. Ada salah seorang Jepang yang bertaruh bahwa jawara Tianjin itu akan kalah, kemudian mencoba memberikan racun dalam minuman Huo Yuanjia. Walaupun demikian, sang lawan yang mengetahui keadaan Huo Yuanjia sudah payah dan bisa saja dia membunuhnya dalam sekejap, dengan hati seorang petarung sejati dia mengaku kalah, dan Huo Yuanjia pun tetap dianggap sebagai pemenang di kompetisinya yang terakhir. Film berakhir. Muncul teks yang mengisahkan Huo Yuanjia meninggal ketika dibawa di rumah sakit, dan lain-lain (ngga sempat baca satu persatu karena kemampuan bahasa mandarin yang terbatas). Melihat adegan senyuman khasnya yang masih kelihatan selesai bertarung, hmm… Cool guy, nice guy. Senyum dong, say..yur…:D

Gigi

Posted 23 Januari 2007 by jeterna
Categories: hari-hariku

*note : ngga ada hubungan sama Gigi Band ..XD

ditulis pada: February 17, 2006

Waktu konsultasi tentang kartu asuransi yang bermasalah di sekolah bagian kepengurusan asuransi mahasiswa asing, Ibu yang mengurus sempat tanya, “kenapa gigimu?” Ku bilang, ” kalau saya bisa tahan sakit gigi ini ngga mungkin saya ke dokter gigi tanpa kartu asuransi. Tapi saya sudah ngga tahan karena rasanya ngilu, mau ngga mau harus ke dokter walaupun kartu asuransi belum keluar”. Biasanya hanya cukup bayar biaya registrasi, tapi ini harus biaya pengobatannya karena kartu asuransi belum ada. Tapi itu tidak seberapa dibanding harus menderita gara-gara sebuah gigi yang sakit. Setelah dapat kartu asuransi, langsung lega karena bisa periksa lebih murah. Tapi katanya kartu itu baru bisa aktif setelah tanggal satu januari. Oleh karena itu, masih buat janji lagi dengan dokter untuk tanggal dua januari. Hasilnya masih belum aktif juga. Jadinya harus membayar uang periksa lagi.

Hari itu aku mengeluhkan kartu asuransi yang katanya sudah bisa aktif tapi tidak bisa dipakai saat berobat. Si Ibu menelpon ke pihak asuransi untuk menanyakan kenapa kartu asuransiku pada tgl 2 januari belum bisa dipakai, setelah tutup gagang telpon itu ia bilang: “Sekarang kartu asuransimu sudah bisa dipakai. Waktu itu belum diaktifkan,  jadi kamu belum bisa pakai untuk periksa., mereka bilang tanggal 4 baru diaktifkan. Kamu masih harus periksa gigi lagi?”. ” Iya, masih ada sekitar 7-8 buah gigi yang mesti diperiksa mencegah gigi berlubang (padahal sudah ada satu gigi yang lubangnya melebar mirip kawah)”. Ibu itu lalu bilang dan menyarankan supaya “beli” gigi baru saja. “Ganti saja giginya dengan yang baru. Murah kok, hanya 6000 NT satunya. Kalau dipasang ngga terlihat tiruan, tapi seperti warna gigi asli lainnya”. Alami maksudnya. Mendengar itu, aku ngga terpikir mau cabut gigi terus pasang yang baru, kecuali memang sudah mengganggu fungsi mengunyah makanan mungkin bisa dipertimbangkan. But, no dech, Terimakasih xiexie. Memang menurut dia murah, “cuma” 6000 NT (sekitar 1,8 juta rupiah). Baru satu gigi sudah segitu, gimana kalau ada 8 gigi, apalagi gigi manusia dewasa itu jumlahnya 32. Wah kalau dihitung secara matematis, ternyata seluruh gigi asli kita seharga (tunggu, cari kalkulator dulu) …… 192000 NT (kira-kira 57,6 juta rupiah). Subhanallah!! Itupun masih pakai standar harga termurah (menurut Ibu tadi). Wow! Cukup untuk bisa membeli sebuah Starlet second. Ck..ck..ck Itulah berharganya ciptaan Tuhan, nilainya tidak bisa diukur dengan materi meskipun diganti dengan tiruan semahal apapun, karena pasti akan terasa beda nikmatnya dibanding dengan ciptaanNya yang begitu sempurna. Anugerah gigi dalam mulut kita saja sudah begitu mahalnya, belum organ tubuh yang lain. Subhanallah!! So, hikmah dari pengalaman ini yaitu bahwa setiap manusia wajib selalu bersyukur akan karunia Allah. Manusia sudah diciptakan sedemikian sempurnanya, pun terkadang masih merasa kurang. Hendaknya apa yang sudah diberi oleh Allah dapat kita rawat dan pelihara, karena itu salah satu wujud syukur kita terhadapNya. (Ya Allah, maafkan aku yang kurang menyukuri nikmat Mu). Kalau sudah terjadi biasanya baru muncul penyesalan. Baru gigi yang sakit, belum penglihatanku yang minus ini. Hixx….hati hanya mampu berandai “andaikan dari dulu tahu repotnya bermata minus, mungkin sekarang tidak pakai kacamata, dan tidak perlu bayar mahal ke dokter gigi, dan lain-lain”. Bagaimanapun juga sekarang masih ada kesempatan  mencegah bagaimana supaya tidak bertambah buruk, di samping terus memelihara dan merawatnya. Berharap itu bisa mengingatkanku untuk tetap bersyukur terhadap segala sesuatu ciptaanNya. ps: Bagi yang giginya masih bagus, pertahankan. Kalau sudah ada yang berlubang, ya mau diapakan lagi. Paling juga harus ditambal, terus berusaha supaya gigi sebelahnya ngga tertular berlubang hihihi.. Amien

Kelas Malam

Posted 23 Januari 2007 by jeterna
Categories: my school

Rabu, 22 Februari 2006

Malam.18.30.Pertama kali di Taiwan mengikuti kuliah malam. Kuliah ini diluar mata kuliah jurusanku. Ketua jurusan kami yang menyarankan agar mahasiswa asing wajib ambil kelas ini. Yup. Kelas bahasa. Selain membantu siswa untuk menguasai bahasa Mandarin lebih baik lagi, kuliah ini diharapkan dapat membantu kami ketika menulis makalah (n jg thesis) selama mengikuti kuliah jurusan.Siswanya foreign students, dan semuanya adalah teman seangkatan satu jurusan.

Ada yang menarik ketika pertama kali mengikuti kelas bahasa ini. Guru kami, wanita, berusia diatas 35, namun masih terlihat seperti usia menjelang 30 (awet muda maksudnya). Materi pelajaran bahasa untuk kami berbeda dengan materi di kelas pusat bahasa lain yang juga ada di kampus ini. Kami akan banyak mempelajari bahasa klasik dan resmi, serta menghafal idiom-idiom Cina sebagai pekerjaan rumah. Terbayang di depan mata, kuliah seperti ini menarik namun juga perlu ketekunan maksimal.

Di tengah pengajaran, sang guru menyelingi sebuah pertanyaan unik. “Kau lebih suka menjadi matahari atau bulan?” Menurutnya, jawaban seseorang akan pertanyaan itu dapat mencerminkan atau setidaknya memperlihatkan karakter orang tersebut.

Aku sempat menjawab, karena ia hanya menanyakan ini ke aku, tidak ke setiap siswa. Jawabanku adalah : “matahari”. Singkat cerita, sang guru memprioritaskan “bulan” sebagai jawaban yang ideal dengan berbagai alasannya. Aku memikirkan penjelasannya. Lumayan mencirikan sifat manusia semestinya dan pada umumnya. Hmm…dari jawaban sang guru itu aku juga sedikit mengira-ngira karakteristik beliau..Hehehe..Walaupun dari uraiannya, ia kurang menerima jawaban “matahari”.

Kenapa ia pilih bulan? kenapa aku pilih matahari?

Just let you think about it..okay..:) I’ve my own opinion and character.

Pergi ke Taoyuan (1)

Posted 23 Januari 2007 by jeterna
Categories: hari-hariku

June 26, 2006

 

Minggu, 25 Juni 2006 pukul 11 siang waktu Taibei (eh ternyata kemarin tepat ulangtahun Burhan-adikku yang ketiga-loh), aku sampai di mesjid kecil (Culture Mosque), letaknya tidak jauh dari kos-ku. Di situ sudah ada Bpk.Pangkuh yang sedang menyantap bubur kacang hijau, Beliaulah yang akan mengajak kami ke Taoyuan siang itu, sebuah county yang cukup besar di sebelah barat kota Taibei. Sambil menunggu Mba Zulle, kami berbincang-bincang dengan rekan-rekan dan mbak-mbak yang juga sedang menyantap hidangan. Aku tidak makan, karena sebelum berangkat sudah sarapan Milo. Tak lama kemudian, datang Mba Zulle dengan senyum khasnya. Aku dan dia cukup antusias sekali ingin pergi ke Taoyuan. Ada apa di Taoyuan hari itu? Pak Pangkuh sebelumnya pernah bilang, hari itu akan ada lomba karaoke, pesertanya adalah orang-orang Indonesia yang kebanyakan bekerja di Taiwan. Aku hampir ikutan loh hehe..tapi masih belum siap, karena belum latihan di ktv (..alasan:p).

Aku senang sekali bisa ke Taoyuan, karena selama di sini belum pernah jalan-jalan ke sana (mba zulle bilang aku sudah pernah ke taoyuan, wong bandara kan ada di taoyuan katanya hihi..). Oya, county ini dengar-dengar komunitas orang Indonesianya lebih terasa dibandingkan di Taibei. Di Taoyuan banyak pabrik, dan sebagian tenaga kerja asal Indonesia di sana bekerja sebagai buruh pabrik.

Sekitar pukul 11.30 ada seorang teman Taiwan datang ke lantai basement tempat kami bercakap-cakap. Aku seperti mengenalnya, dan benar, ternyata dia adalah Mustafa (nama Arabnya, Fengyao adalah nama Chinese-nya). Entah ada angin apa yang membawa ia ke mesjid kecil, tapi aku yakin pasti berhubungan dengan thesis yang sedang dia kerjakan sekarang. Fengyao adalah mahasiswa pascasarjana jurusan Keagamaan di kampus yang sama dengan Agustin. Kini sedang berusaha menyelesaikan thesisnya yang berkaitan dengan kehidupan orang Indonesia Muslim di Taiwan. Dia cukup kaget juga melihat aku ada di situ haha..maklum aku dan dia jarang ketemu, dan kalaupun pernah ketemu itupun seringnya di acara-acara yang bertajuk Islam. Mbak-mbak menyambutnya ramah, dan memberikan semangkuk bubur kacang hijau untuk dia. Aku, Mba Zulle dan Pak Pangkuh siap-siap pergi meninggalkan mesjid menuju Taoyuan. Fengyao mendengar kami akan ke Taoyuan, tanpa ditanya langsung mengajukan diri untuk ikut bersama kami. Buburnya hanya termakan beberapa suap saja, kemudian kami pun langsung berangkat dengan mengucapkan salam terlebih dahulu untuk rekan-rekan yang masih asyik makan dan berbincang-bincang.

Dari sinilah pengalaman pergi ke Taoyuan dimulai.