Archive for the ‘ceritaku’ category

Hujan Deras di Taipei

6 Juni 2007

Baru saja saya menonton TV sambil menyantap nasi putih plus kering tempe teri. Taipei semalam hujan deras, bahkan hingga detik ini, hujan masih mengguyur ‘ibukota’ Taiwan. Padahal, dua hari sebelumnya panas terik dan pengap cuacanya. Namun, Alhamdulillah dua hari ini suhu menurun dengan turunnya hujan. Di berita yang saya tonton tadi, beberapa tempat di Taipei ternyata tergenang air, genangan tertinggi yang saya lihat sekitar selutut orang dewasa, termasuk tinggi jika melihat kondisi kebersihan kota ini bila dibandingkan Jakarta. Masyarakat mengeluh selama hujan deras, mereka hampir tidak pernah mengalami banjir seperti ini. Topik lainnya, pagi tadi seorang artis Taiwan bernama Lin Xiaopei menabrak mati seorang perawat ketika ia mengendarai mobilnya. Dalam kondisi cuaca yang sangat buruk, ia ‘berani’ mengemudi dengan keadaan mabuk. Setelah melalui pemeriksaan, persentase alkoholnya membuktikan dia mabuk berat ketika mengendarai mobil, dan kecelakaan subuh itupun tidak dapat dihindarinya. Ia ditangkap. Perawat tersebut luka parah ketika ditabrak dan akhirnya nyawanya tidak tertolong lagi. “Dui buqi”, kata Lin Xiaopei ketika diusung polisi untuk ditindaklanjuti perkaranya.

Saya teringat kadang orang sini bertanya ke saya mengapa saya tidak boleh minum arak/bir, dan mereka menanyakan kembali kenapa orang Islam melarang minuman haram itu. “Kasihan sekali kamu tidak bisa minum”, kata mereka. Saya tersenyum 🙂

Iklan

Bahasa-ku

3 Februari 2007

Salam
Sudah lama tak isi blog di sini lagi. Sekedar intro setelah lama menghilang karena kesibukan lain saya ingin mengatakan bahwa di Taiwan saat ini sedang musim dingin. Kegiatan baru saya saat ini adalah belajar bahasa Arab. Seminggu dua kali di mesjid besar Taipei. Yang mengajar seorang imam keturunan Thailand tapi mengajar dengan perantara Mandarin. Bahasa ibu saya adalah bahasa Indonesia, untuk mempelajari bahasa asing dengan perantara bahasa asing lainnya otak saya mesti dibagi tiga bagian, yaitu bahasa ibu, bahasa perantara, dan bahasa yang dipelajari/bahasa tujuan.
Sebelum bahasa Arab, saya rutin setiap minggu dengan dua teman sekolah belajar bahasa Itali. Gurunya adalah teman sekelas saya sendiri yang asli berasal dari P.Sisilia Italia dan tentunya dengan perantara Mandarin pula. ‘Io sono Indonesiana’.
Bicara bahasa asing, saya ingat ketika kuliah dulu juga pernah ambil mata kuliah pilihan bahasa Korea satu semester dan bahasa Jepang selama dua semester. Kalau bahasa Inggris? Pas SD saya mulai ikut-ikutan les bahasa Inggris di dekat rumah, sehingga pas SMP alhamdulillah nilai bahasa Inggris saya tidak buruk karena les itu tadi. Namun, menjelang masuk sastra Cina, bahasa inggris saya perlahan-lahan tersingkirkan dan tersesakan dengan kumpulan kosa kata mandarin. Whatever deh..Alhamdulillah sekarang bahasa Inggris saya mulai bangkit perlahan karena sering bergaul dengan teman yang tidak fasih berbahasa Mandarin sehingga mengharuskan komunikasi dengan bahasa Inggris. Di kampus dan lingkungan asrama tetap memakai bahasa Mandarin, dan kadang jika berkumpul atau chat dengan saudara setanah air saya masih menggunakan bahasa ibu saya. Bahasa Indonesia. Everyday live in three language environments. Mandarin, English, Indonesian. Huah!! pusing? no! it’s interesting!!! 🙂 But, jika ada yang tanya mana yang lebih fasih di antara itu, saya saat ini bisa menjawab of course Indonesian and Chinese hehehehehe..teteup. (masih ada satu bahasa lagi yang saya bisa mengerti secara pasif dan mungkin bisa aktif dikit2, yaitu boso jowo ngoko hohohoho).

Belajar bahasa lain? why not? just try and you will get the new sense of that language. 😉

Wassalam