Archive for the ‘film’ category

Distractions during shalat

23 Mei 2007

Salam

Orang dalam video ini bercerita tentang hal-hal apa saja yang dapat mengganggu konsentrasi ketika shalat.

Dikemas dalam penyampaian yang lucu dan menggelitik. Saya sampai terpingkal-pingkal pas nonton hehehe..

Selamat menonton!

Iklan

Fearless

23 Januari 2007

ditulis pada : February 04, 2006

Intro : Walaupun usianya tahun ini mendekati 43 tahun, sudah ngga semuda dulu waktu main film kungfu shaolin, tapi wajah yang penuh smile itu tetap kelihatan fresh (from oven kali). Gue nonton film ini sendiri karena berhubung tidak ada teman Indo yang ingin nonton di bioskop (ga tertarik krn film pakai teks n berbahasa mandarin). Ada teman Taiwan yang berbaik hati menawarkan diri untuk nemanin, tapi karena waktu yang mendesak (lebih cepat nonton lebih baik) dan karena mereka masih dalam liburan di kampung halaman masing2, jadi berangkatlah daku menuju Living Mall. Kalau biasa di Mal-mal Jakarta bioskop itu berada di lantai paling atas, beda dengan Living Mall, bioskop justru ada di lantai basement (B17)..pantes udah naik sampai lantai 4 atas ngga ada tanda-tanda cinema, tahunya di bawah. Huih..Alhamdulillah sempat beli yang pkl 11.40 (padahal belinya sdh pkl.11.49). Pas masuk Hall 6 ternyata belum mulai, alias masih iklan :p Hmmm..pengalaman pertama nonton film di bioskop alone. Mau tahu rasanya? besok coba aja pergi sendirian ke bioskop terdekat…:) He7x..gue mah asyik2 aja..wong gue sendiri yang ngotot mau nonton ntu film..kalo gini kan sdh lega.

Sabtu siang pukul 11.55 waktu Taipei, tepat film Fearless atau Huo Yuanjia (judul dalam Mandarin langsung menyebut nama tokoh utama film itu) diputar di bioskop Cinemark Living Mall (Jing Hua cheng). Sepuluh menit sebelumnya waktu beli tiket seharga 230 NT, tanpa antrian panjang, agak bingung mesti masuk ke ruangan mana. Maklum, terakhir kali datang ke sini sudah hampir 3 tahun yang lalu. Akhirnya bisa juga nonton tepat waktu walaupun di tiket ditulis pukul 11.40, tapi biasanya muncul film-film iklan dulu sebelum film utama. Ya, dulu pertama kali datang ke pulau ini, pernah nonton sekali di bioskop ini bersama teman-teman ekskul kungfu. Waktu itu kita nonton Charlie’s Angel 2. Kali kedua datang ke pulau ini, Fearless jadi film pertama yang gue tonton sejak lima setengah bulan datang ke Taipei.

Huo Yuanjia yang diperankan Jet Li merupakan tokoh legendaris Cina awal abad 20. Ia jago beladiri wushu, sering bertanding demi mendapatkan piagam juara satu se-Tianjin yang tak terhitung berapa kali jumlahnya. Film ini didominasi oleh duel-duel antara Jet Li dan tokoh lawan mainnya. Iyalah, wong aktornya aktor laga, kalau temanya dramatis mendayu-dayu bukan film khas Jet Li donk :p

Kesan setelah nonton film ini, sebenarnya kalau dilihat dari segi cerita, jangan berharap dapat alur cerita yang sempurna, karena hampir seluruh cerita diwarnai pertarungan Jet Li dalam duel pertandingan yang ada di jaman itu. Intinya kalau sedang lihat film-film Jet Li, lihatlah akting beladirinya. Itu yang sudah pasti top. Kalau isi cerita, banyak nilai-nilai yang bisa diambil terutama pemahaman dan karakter yang harus dimiliki seorang ahli wushu ketika mengikuti sebuah kompetisi beladiri. Apa sebenarnya yang mendasari seseorang berlatih wushu?Jet Li berucap ada tiga hal penting makna latihan wushu : melatih tubuh, melatih akal pikiran dan melatih moral.

Pertarungan-pertarungan awal yang diikuti Huo Yuanjia waktu ia belum menemukan makna kompetisi beladiri sesungguhnya, cuma didasari atas ambisi dan ego balas dendam. Setelah keluarga yang dicintainya dibunuh akibat sikapnya yang ceroboh dan melebihi batas hanya demi membalas dendam muridnya, dia mulai sadar bahwa kebencian dan dendam tidak akan ada akhirnya, orang yang dicintai pun bisa jadi korban.

Akhirnya, ia terdampar di suatu daerah (kurang jelas maksudnya kenapa mesti ada cerita terdampar di perkampungan. Karena di situ yang menonjol cuma kisah Jet Li n aktris cantik yang berperan sebagai cewe tunanetra). Habis terdampar, dia balik ke daerah asalnya lagi untuk mengunjungi makam keluarganya, pun sempat mengunjungi keluarga almarhum lawannya yang meninggal di tangannya dulu.

Yang biasanya dulu kalau habis menang tanding dan waktu menjamu tamu minum arak, setelah balik Huo Yuanjia jadi lebih suka teh (hmmm..cara mengganti kebiasaan yang bagus bagi mereka yang biasa minum arak). Ada lagi yang bisa diambil maknanya waktu nonton film ini. Yaitu setiap kompetisi beladiri tidak ada tingkatan tinggi dan rendah, tidak ada kalah dan menang, tidak ada kuat dan lemah, hanya kita saja yang membuat standarisasi seperti itu. Pertandingan beladiri sebenarnya untuk mengukur dan mengenali kelemahan diri sendiri, bukan mencari kelemahan lawan, karena musuh terbesar ketika bertanding adalah bagaimana mengendalikan ambisi pribadi.

Oh ya, waktu kecil Jet Li punya teman seperjuangan yang dihutanginya waktu traktir pesta arak di kedainya. Di pertandingan terakhir kali, ia sempat meminjam uang sama temannya itu. Temannya seorang pengusaha, dulu sering berkali-kali mengingatkan Huo Yuanjia agar tidak perlu bertarung demi menjadi jawara nomor satu. Namun, kali ini ia berani meminjamkan uang karena pertarungannya membawa nama bangsa Cina di mata dunia. Huo Yuanjia terakhir bertanding dengan seorang ahli beladiri Jepang yang pernah menjamunya. Ada salah seorang Jepang yang bertaruh bahwa jawara Tianjin itu akan kalah, kemudian mencoba memberikan racun dalam minuman Huo Yuanjia. Walaupun demikian, sang lawan yang mengetahui keadaan Huo Yuanjia sudah payah dan bisa saja dia membunuhnya dalam sekejap, dengan hati seorang petarung sejati dia mengaku kalah, dan Huo Yuanjia pun tetap dianggap sebagai pemenang di kompetisinya yang terakhir. Film berakhir. Muncul teks yang mengisahkan Huo Yuanjia meninggal ketika dibawa di rumah sakit, dan lain-lain (ngga sempat baca satu persatu karena kemampuan bahasa mandarin yang terbatas). Melihat adegan senyuman khasnya yang masih kelihatan selesai bertarung, hmm… Cool guy, nice guy. Senyum dong, say..yur…:D

Nonton Opera Jawa

4 Januari 2007

Taipei Golden Horse Film Festival 2006 (TGHFF) yang berlangsung tanggal 10-24 November menyajikan film-film internasional bermutu karya para sutradara yang tentunya juga berkualitas di bidangnya. Program ini merupakan salah satu rangkaian dari Taiwan International Film & TV Expo (TIFTE) 2006 selain Golden Horse Awards (Penghargaan perfilman Mandarin) dan 51st Asia-Pacific Film Festival (APFF). Pokoknya, tahun ini Taiwan benar-benar demam film deh. Semuanya dibabat habis di bulan November. Daku yang hanya sebagai penonton sebuah film (Opera Jawa itu) di Golden Horse Film, dan salah satu panitia anak bawang di APFF, serta tanpa sengaja melihat penyerahan Golden Horse Awards lewat TV saja sudah hampir ‘mabok’ . Semuanya berlangsung secara berurutan, tak terpikirkan olehku sebelumnya. Tahu-tahu, setelah dipikir setengah masak, kok aku bisa ya melibatkan diri ke arena tersebut. Padahal, aku bukan orang yang gemar film, apalagi penggemar artis-artisnya (kecuali Jet Li), apalagi pemerhati sutradara beken, dan apalagi-apalagi lainnya. Dari situ, mendadak pengetahuanku tentang dunia film sedikit bertambah (bener2 sedikit), tahu sedikit beberapa nama sutradara top,tahu sedikit (lebih dari sedikit sih) alur bagaimana sebuah acara bagi-bagi plakat itu berlangsung, yang terpenting lagi, tahu banyak bagaimana rasa capeknya menjadi ‘ganxie renyuan (anggota ucapan terima kasih)’…hehehe…

Oke..oke..back to subject. Nonton Opera Jawa. Apa yang mendasariku ingin nonton itu? Begini urutan peristiwanya: Teman sekamar daku memperkenalkan event TGHFF, kemudian memberikan buku saku panduan film-film itu sambil ‘mempromosikan’ beberapa film yang menurut mereka layak ditonton (contoh:Paris Je T’aime). Tiba-tiba aku melihat “Opera Jawa” di dalam buku saku itu. Ternyata hanya satu film Indonesia yang berpartisipasi, dan bisa ditebak sutradara filmnya siapa? iya..mas Garin Nugroho. Selain cukup antusias dengan namanya, alasan aku ingin menonton adalah bahwa aku ingin menyenangkan diri dengan melihat karya Indonesia, aku tak perlu repot-repot membaca dan mendengar bahasa Cina. Nah, kalau filmnya film Indonesia kan aku cukup mendengar bahasa ibu sendiri dan melihat akting mereka saja. Simple kan. But, lihat jadwal pemutarannya impossible to go, karena bentrok kuliah. Selang beberapa hari, buku saku itu kuperhatikan dengan cermat dan seksama, eh ternyata pemutarannya dua kali, Opera Jawa juga diputar hari Sabtu, yeah…weekend-an nonton film deh. Top! Tapi, ternyata tak ada teman yang ingin menonton film itu. Selain tiketnya mahal (bagi kami kaum pelajar yang sedang menipis uangnya), 200 NT, ada teman yang hari itu sudah ada kegiatan lain. Alamat nonton film sendiri lagi deh kayak waktu nonton Fearless dulu. Hihihi..sudah pengalaman nonton sendiri, jadi waktu beli tiket untuk daku sendiri yaa sudah cukup pede dan siap lahir batin, kalau ini bersiap-siap untuk tidak mampu memahami isi film karya mas Garin Nugroho yang jauh di luar jangkauan film-film normal lainnya hehehehe…

Tiket sudah di tangan. Opera Jawa diputar tanggal 11-11-2006, aku akan duduk di baris 17 kursi 11. Banyak angka 11-nya ya. Dua hari sebelum itu, ada Kak Joy ternyata mau ‘nemenin’ nonton. Hmm..senang tapi kalau ternyata tiketnya ngga ada yang duduk bersebelahan ya sama aja hiks..Akan tetapi, pas aku beli tiket untuknya, kursi sebelahku ternyata masih kosong, jadilah ku pesan tiket itu untuk Kak Joy. Mujur..Alhamdulillah. Di penghujung waktu, masih ada harapan untuk mewujudkan harapan.

Hari Sabtu, kami ke bioskop Shin Kong Cinema di Ximending (seluruh film TGHFF diputar di bioskop itu), Opera Jawa main pukul 14.50. Di Taiwan, daku sepertinya tak pernah ontime kalau datang ke acara nonton film. Fearless lalu, telat beberapa menit; Opera Jawa (OJ)telat 3 menitan, terakhir aku dan teman-teman nonton Jackie Chan (Baobei Jihua) juga telat beberapa menit. Ku pikir, sebelum tayang film OJ, akan muncul iklan tapi ternyata tak ada. Langsung muncul gambar dengan alunan musik gamelan kraton yang kental. Akhirnya, bisa juga daku menonton film Indonesia di sini. Hati berbunga-bunga karena ku dapat mendengar bahasa Indonesia (masih belum nyadar)…walaupun awalnya hanya terdengar dialog-dialog menggunakan bahasa Jawa. Dugaan hanyalah dugaan. Menit-menit berlalu, namun mengapa tak ku dengar sama sekali dialog berbahasa Indonesia? All in Javanese language, dan semua menggunakan musik gamelan ketika berdialog, persis seperti dialog ketoprak hanya setting-nya saja bukan di atas panggung. Pada awalnya aku mengerti sedikit, tapi lama kelamaan berubah..sulit sekali ku cerna maknanya. Aku terpaksa melihat teks tulisan kanji di bawahnya. Tak ada Inggris pula. Walaaaaah..Teks bahasa Cina nya pun banyak menggunakan istilah-istilah klasik, pantas saja aku ngga mengerti dialognya (wong ngomong boso jowo alus)…ciut deh. Daku ikhlas saja menerima kenyataan ini. Mulai saat itu, aku terus mengandalkan teks kanji. Inti cerita film musikal Opera Jawa itu terinspirasi oleh kisah klasik dunia perwayangan The Abduction of Sinta…(mesti nanya anak sastra Jawa nih).

Sambil memungkiri keadaan, dan tertawa sinis pada diri sendiri. Aku orang Indonesia, bapak-ibu asal Jawa Tengah, cuma mengerti bahasa Jawa Ngoko, tapi ketika di Taiwan nonton Film Indonesia dialog bahasa Jawa, baru mengerti lewat bantuan teks bahasa Mandarin. (Kak Joy yang setia di sampingku bilang sempat tertidur karena tak begitu mengerti juga). Kita podo-podo lah,mbak.

Penutup:

“Hati oh hati…ternyata rupamu seperti itu, hanya seonggok daging berwarna merah, namun mengapa manusia selalu memperebutkan engkau, dan tahukah kau karena-mu pula manusia bertikai demi mendapatkan dirimu?”