Archive for the ‘hari-hariku’ category

Hikmah hari ini

26 Juli 2007

Hari ini kamis, 26 Juli 2007. Ada bayi yang baru lahir ke dunia ini, kuucapkan selamat datang ke alam nyata wahai bayi-bayi mungil :). Ada yang merayakan hari ulangtahun-nya, dan ada juga yang menutup matanya untuk terakhir kali. Setiap hari, fenomena ini tanpa kita sadari terjadi di sekitar kita. Tadi siang aku pergi ke mesjid besar, dan melihat jenazah yang akan disholatkan. Dalam dua hari berturut-turut, aku mengamati hal ini, dan sudah dua jenazah yang disholatkan pada waktu ba’da dhuhur. Bagi yang berulangtahun hari ini, ku hanya memperingatkan bahwa setiap tahun dirimu semakin mendekati kehidupan akhirat, untuk bertemu dengan-Nya. Dan masa itu, masa di mana engkau akan terbujur disholatkan, tidak akan lama lagi, karenanya tiap tahun sebaiknya ingatlah akan hal-hal yang mesti kau perbaiki dan introspeksi sebagai bekal kelak jika menemui-Nya.

Hari ini aku sedang diperingatkan.

Iklan

Musim Pindahan

30 Juni 2007

Kalau ada teman Indonesia tanya, di Taiwan sekarang sedang musim apa? Saya akan bilang di sini sedang musim pindahan. Saya tinggal di asrama sekolah, tidak cuma itu, yang tinggal di kos-kosan juga mungkin mengalami hal serupa, banyak teman teman se-kos atau se-asrama yang pindah rumah karena sudah musim panas. Mereka ingin pulang ke kampung halaman masing-masing, ada yang sudah lulus studi, ada yang ingin bepergian lama, ada yang bekerja namun tidak ingin tinggal di asrama, karena di asrama saya kalau musim panas seluruhnya harus pindah kecuali untuk teman-teman dalam kondisi atau identitas tertentu. Iya, harus bayar lagi untuk tinggal selama dua bulan ini.

Karena musim pindahan, tidak sedikit yang menghibahkan barang-barang masih layak pakai nya untuk siapa saja dengan ‘memungutnya’ GRATIS. Yang paling berlebihan di sini ada yang menghibahkan printer. Ditaruh begitu saja di depan kamarnya beserta barang-barang lucu lainnya, lalu dituliskan barang-barang ini boleh diambil termasuk printer merk Lexmark ini. Penghibahan barang-barang itu dibatasi waktu sama mantan empunya, karena mungkin dia sudah harus pindah secepatnya, dan kalau masih tersisa barang-barang itu mungkin akan dibuangnya.

Ini namanya warisan. Saya pun dapat warisan dari seorang teman sekamar saya yang sudah lulus semester ini. Dia akan pindah dan pulang ke kampung halamannya. Warisan folder-folder dan buku tulis, juga alat perlengkapan lain. Ada yang mau? hehe..Sekarang barang-barang di meja dan lemarinya tinggal sedikit, sebagian sudah dikirim ke rumahnya dan ada juga yang memenuhi meja saya sekarang ini hehehe..

Musim pindahan, musim bagi-bagi ‘warisan’. Lain waktu gantian saya yang mewariskan.. ya jika ada yang layak untuk diwariskan.

From Malaysia?

1 Juni 2007

Saya berasal dari negara mana,ya? Apa identitas saya? hehe..Sejak hari perubahan itu, banyak peristiwa dan pengalaman menarik serta seruuuu yang saya alami selama menuntut ilmu di sini.

Ketika tamasya ke Green Island (sebelah timur Taiwan), ada orang yang mengira saya biarawati, dan ada yang menduga saya berasal dari Filipina. Awalnya saya kurang tahu kenapa bisa dibilang saya berasal dari Filipina. Ada yang bilang, karena biarawati di Taiwan sebagian ada yang berasal dari Filipina. Oooooh..begitu. Tapi saya bukan biarawati, saya menjelaskan bahwa pakaian yang saya kenakan ini identitas perempuan Islam. Waktu naik sepeda ke kampus, juga ada bapak yang sedang berboncengan melihat saya terus, dan saya lemparkan saja senyum saya ke mereka, ternyata mereka ingin tanya apakah saya biarawati? yaa saya jelaskan saja apakah saya.

Rabu dan kamis kemarin berturut-turut, saya disangka orang Malaysia. hehehe..cukup sering saya mendengar komentar itu. Waktu itu ketika bertemu seorang muslimah asal Jerman. Ia datang untuk berlibur selama dua minggu di Taiwan. Ia berkebangsaan Jerman, keluarganya dulu migrasi dari Macedonia ke Berlin. Saya sering dengar ‘Macedonia’, tapi tidak tahu apa-apa tentang negara itu. Lejla, nama muslimah itu, sekilas saya melihatnya menduga ia ‘a muslim convert’. Setelah bincang2 cukup lama, seluruh keluarganya memang ‘islam by birth’. Pertama kali, ia menebak saya seorang Malaysia. Akhirnya saya berkata ‘ i come from Indonesia’.

Kamisnya, ketika daftar ulang pengajuan asrama di kampus, tiba-tiba ada bapak-bapak petugas dengan cukup yakinnya mengira saya mahasiswa Malaysia. Dia tahu setelah akhirnya saya bilang asal negara saya. Namun ia masih menebak2 lagi apakah saya ‘overseas chinese’, saya jawab bukan. “Wah, kalau kamu tidak pakai penutup kepala, kamu terlihat seperti overseas chinese atau orang Taiwan loh”. Ya, ia bisa bilang begitu mungkin karena mendengar saya berbahasa Mandarin.

Masih ada lagi cerita-cerita dan pengalaman excited lainnya..to be continued.InshaAllah 🙂

gadis kasir di kantin asrama

25 Januari 2007

Saya tinggal di asrama sekolah yang jauh dari sekolah. Sekolah kami memiliki dua kampus, kampus pusat dan kampus cabang namanya. Nah, asrama yang saya huni berada di kampus cabang, kalau naik sepeda ke kampus utama sekitar 15 hingga 20 menit dengan speed normal lho! 🙂

Suatu hari, saya berniat beli nasi putih di kantin yang terletak di lantai satu gedung asrama kami. Ketika saya mau bayar nasi yang seharga 6 NT itu (sekitar Rp.1800), si gadis kasir melihat sambil bertanya: “Kamu bukan orang Taiwan ya?”, “Bukan” jawabku. “Lalu orang mana?”,sambungnya. “Saya orang Indonesia”.”Ooo”..dia manggut-manggut seraya mengembalikan 4 koin 1 NT-an kepada saya. Saya balik ke kamar saya di lantai 10 dengan muka senyam-senyum sendiri hehehe..masakan saya seperti orang Taiwan, mudah-mudahan di waktu mendatang ada muslimah Taiwan atau mana saja yang memakai kerudung identitas muslim.

Kemarin, di tempat yang sama dan membeli barang yang sama, si gadis kasir dari kejauhan senyum melihatku. Saya balas senyumannya. Saya ambil sendiri plastik dan nasi putih di meja dekat kasir itu, lalu berniat membayar ke gadis kasir itu. Dia bersuara lagi:  “Eh, dulu kamu bilang berasal dari mana?” ternyata dia lupa saat itu. “Indonesia”, jawabku. “Kok bisa bicara Mandarin? Memang sekarang banyak orang bicara Mandarin di Indonesia ya?Kamu dulu pernah belajar Mandarin berapa lama?”,tanyanya. “Saya dulu lulusan sastra Cina, saat ini banyak orang tertarik Mandarin di Indonesia tapi masih belum banyak, namun lama-kelamaan pasti akan banyak karena sekarang Mandarin sudah menjamur. Mereka tertarik ingin belajar Mandarin karena mungkin hubungan Cina-Indonesia dalam ekonomi semakin maju atau hanya ingin karena tuntutan pekerjaan”. Pertanyaan berikutnya yang tak diduga-duga adalah: “Indonesia negaranya bagaimana?apakah miskin?apa bedanya dengan Taiwan? Saya belum pernah ke Indonesia. Setahu saya Indonesia adalah negara kepulauan”. Saya merasa perlu bercerita panjang lebar tentang negara saya, untuk sementara hanya mencoba menjawab pertanyaan dia seperti ini: “Indonesia negara besar, penduduknya 10 kali lebih banyak dari penduduk Taiwan, terdiri dari lebih 13 ribu pulau dengan area yang jauh lebih besar dari Taiwan. Tidak semua orang di Indonesia miskin.” Entah pertanyaan nya yang tentang miskin itu dilihat dari pendapatan perkapita penduduk atau sumber daya alamnya. Saya lupa menyelipkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam, hanya saja penduduknya sebagian masih dalam hidup miskin karena kesenjangan sosial di negara saya sangat mencolok tidak seperti negeri Taiwan ini. Setelah mendengar jawaban singkat saya itu, si gadis tampak kaget dan tak mengira Indonesia memiliki penduduk serta wilayah yang besar.

Sepertinya dia ingin mengobrol banyak denganku tapi ada cowok yang ingin bayar makanannya, aku pun pamit berkata semoga bisa bincang-bincang lagi di waktu lain. We’ll see next time. 🙂

Gigi

23 Januari 2007

*note : ngga ada hubungan sama Gigi Band ..XD

ditulis pada: February 17, 2006

Waktu konsultasi tentang kartu asuransi yang bermasalah di sekolah bagian kepengurusan asuransi mahasiswa asing, Ibu yang mengurus sempat tanya, “kenapa gigimu?” Ku bilang, ” kalau saya bisa tahan sakit gigi ini ngga mungkin saya ke dokter gigi tanpa kartu asuransi. Tapi saya sudah ngga tahan karena rasanya ngilu, mau ngga mau harus ke dokter walaupun kartu asuransi belum keluar”. Biasanya hanya cukup bayar biaya registrasi, tapi ini harus biaya pengobatannya karena kartu asuransi belum ada. Tapi itu tidak seberapa dibanding harus menderita gara-gara sebuah gigi yang sakit. Setelah dapat kartu asuransi, langsung lega karena bisa periksa lebih murah. Tapi katanya kartu itu baru bisa aktif setelah tanggal satu januari. Oleh karena itu, masih buat janji lagi dengan dokter untuk tanggal dua januari. Hasilnya masih belum aktif juga. Jadinya harus membayar uang periksa lagi.

Hari itu aku mengeluhkan kartu asuransi yang katanya sudah bisa aktif tapi tidak bisa dipakai saat berobat. Si Ibu menelpon ke pihak asuransi untuk menanyakan kenapa kartu asuransiku pada tgl 2 januari belum bisa dipakai, setelah tutup gagang telpon itu ia bilang: “Sekarang kartu asuransimu sudah bisa dipakai. Waktu itu belum diaktifkan,  jadi kamu belum bisa pakai untuk periksa., mereka bilang tanggal 4 baru diaktifkan. Kamu masih harus periksa gigi lagi?”. ” Iya, masih ada sekitar 7-8 buah gigi yang mesti diperiksa mencegah gigi berlubang (padahal sudah ada satu gigi yang lubangnya melebar mirip kawah)”. Ibu itu lalu bilang dan menyarankan supaya “beli” gigi baru saja. “Ganti saja giginya dengan yang baru. Murah kok, hanya 6000 NT satunya. Kalau dipasang ngga terlihat tiruan, tapi seperti warna gigi asli lainnya”. Alami maksudnya. Mendengar itu, aku ngga terpikir mau cabut gigi terus pasang yang baru, kecuali memang sudah mengganggu fungsi mengunyah makanan mungkin bisa dipertimbangkan. But, no dech, Terimakasih xiexie. Memang menurut dia murah, “cuma” 6000 NT (sekitar 1,8 juta rupiah). Baru satu gigi sudah segitu, gimana kalau ada 8 gigi, apalagi gigi manusia dewasa itu jumlahnya 32. Wah kalau dihitung secara matematis, ternyata seluruh gigi asli kita seharga (tunggu, cari kalkulator dulu) …… 192000 NT (kira-kira 57,6 juta rupiah). Subhanallah!! Itupun masih pakai standar harga termurah (menurut Ibu tadi). Wow! Cukup untuk bisa membeli sebuah Starlet second. Ck..ck..ck Itulah berharganya ciptaan Tuhan, nilainya tidak bisa diukur dengan materi meskipun diganti dengan tiruan semahal apapun, karena pasti akan terasa beda nikmatnya dibanding dengan ciptaanNya yang begitu sempurna. Anugerah gigi dalam mulut kita saja sudah begitu mahalnya, belum organ tubuh yang lain. Subhanallah!! So, hikmah dari pengalaman ini yaitu bahwa setiap manusia wajib selalu bersyukur akan karunia Allah. Manusia sudah diciptakan sedemikian sempurnanya, pun terkadang masih merasa kurang. Hendaknya apa yang sudah diberi oleh Allah dapat kita rawat dan pelihara, karena itu salah satu wujud syukur kita terhadapNya. (Ya Allah, maafkan aku yang kurang menyukuri nikmat Mu). Kalau sudah terjadi biasanya baru muncul penyesalan. Baru gigi yang sakit, belum penglihatanku yang minus ini. Hixx….hati hanya mampu berandai “andaikan dari dulu tahu repotnya bermata minus, mungkin sekarang tidak pakai kacamata, dan tidak perlu bayar mahal ke dokter gigi, dan lain-lain”. Bagaimanapun juga sekarang masih ada kesempatan  mencegah bagaimana supaya tidak bertambah buruk, di samping terus memelihara dan merawatnya. Berharap itu bisa mengingatkanku untuk tetap bersyukur terhadap segala sesuatu ciptaanNya. ps: Bagi yang giginya masih bagus, pertahankan. Kalau sudah ada yang berlubang, ya mau diapakan lagi. Paling juga harus ditambal, terus berusaha supaya gigi sebelahnya ngga tertular berlubang hihihi.. Amien

Pergi ke Taoyuan (1)

23 Januari 2007

June 26, 2006

 

Minggu, 25 Juni 2006 pukul 11 siang waktu Taibei (eh ternyata kemarin tepat ulangtahun Burhan-adikku yang ketiga-loh), aku sampai di mesjid kecil (Culture Mosque), letaknya tidak jauh dari kos-ku. Di situ sudah ada Bpk.Pangkuh yang sedang menyantap bubur kacang hijau, Beliaulah yang akan mengajak kami ke Taoyuan siang itu, sebuah county yang cukup besar di sebelah barat kota Taibei. Sambil menunggu Mba Zulle, kami berbincang-bincang dengan rekan-rekan dan mbak-mbak yang juga sedang menyantap hidangan. Aku tidak makan, karena sebelum berangkat sudah sarapan Milo. Tak lama kemudian, datang Mba Zulle dengan senyum khasnya. Aku dan dia cukup antusias sekali ingin pergi ke Taoyuan. Ada apa di Taoyuan hari itu? Pak Pangkuh sebelumnya pernah bilang, hari itu akan ada lomba karaoke, pesertanya adalah orang-orang Indonesia yang kebanyakan bekerja di Taiwan. Aku hampir ikutan loh hehe..tapi masih belum siap, karena belum latihan di ktv (..alasan:p).

Aku senang sekali bisa ke Taoyuan, karena selama di sini belum pernah jalan-jalan ke sana (mba zulle bilang aku sudah pernah ke taoyuan, wong bandara kan ada di taoyuan katanya hihi..). Oya, county ini dengar-dengar komunitas orang Indonesianya lebih terasa dibandingkan di Taibei. Di Taoyuan banyak pabrik, dan sebagian tenaga kerja asal Indonesia di sana bekerja sebagai buruh pabrik.

Sekitar pukul 11.30 ada seorang teman Taiwan datang ke lantai basement tempat kami bercakap-cakap. Aku seperti mengenalnya, dan benar, ternyata dia adalah Mustafa (nama Arabnya, Fengyao adalah nama Chinese-nya). Entah ada angin apa yang membawa ia ke mesjid kecil, tapi aku yakin pasti berhubungan dengan thesis yang sedang dia kerjakan sekarang. Fengyao adalah mahasiswa pascasarjana jurusan Keagamaan di kampus yang sama dengan Agustin. Kini sedang berusaha menyelesaikan thesisnya yang berkaitan dengan kehidupan orang Indonesia Muslim di Taiwan. Dia cukup kaget juga melihat aku ada di situ haha..maklum aku dan dia jarang ketemu, dan kalaupun pernah ketemu itupun seringnya di acara-acara yang bertajuk Islam. Mbak-mbak menyambutnya ramah, dan memberikan semangkuk bubur kacang hijau untuk dia. Aku, Mba Zulle dan Pak Pangkuh siap-siap pergi meninggalkan mesjid menuju Taoyuan. Fengyao mendengar kami akan ke Taoyuan, tanpa ditanya langsung mengajukan diri untuk ikut bersama kami. Buburnya hanya termakan beberapa suap saja, kemudian kami pun langsung berangkat dengan mengucapkan salam terlebih dahulu untuk rekan-rekan yang masih asyik makan dan berbincang-bincang.

Dari sinilah pengalaman pergi ke Taoyuan dimulai.

Pergi ke Taoyuan (2)

23 Januari 2007

July 03, 2006

“Kita naik kereta”, kata Pak Pangkuh. Kami berempat pun pergi ke Taibei Main Station untuk menyambung naik kereta ke Taoyuan. Tiket kereta Juguang perorang 66 NT (kalau tidak salah ingat), dan perjalanan ke sana kurang-lebih 30 menit.

Setelah sampai di Taoyuan Station, kami berjalan ke sebuah rumah makan Indonesia yang tidak jauh dari stasiun. Pemiliknya adalah seorang ibu Indonesia yang bersuamikan orang Taiwan. Banyak tenaga kerja Indonesia yang bermasalah datang ke tempat ini sekedar mengungsi ataupun mengadu tentang keluhan-keluhan lain. Restonya ini sering menjadi tempat tinggal sementara bagi mereka yang menghadapi masalah selama bekerja di Taiwan. Aku yakin, setiap hari ibu itu pasti sering melihat dan mendengar kasus-kasus yang menimpa para TKI itu, dari ketidakadilan yang menyangkut honor tidak diberi hingga permasalahan yang ditimbulkan oleh tenaga kerja itu sendiri. Ini hanya sebagian kecil dari sekian masalah yang dialami mereka. Aku semakin tahu jika sebenarnya kita tengok ke mereka sebagai pahlawan devisa di negeri orang, permasalahan-permasalahan itu begitu kompleksnya. Well, mudah-mudahan hal seperti ini tidak berlanjut lagi, dan semoga Allah menguatkan hati mereka serta meringankan semua permasalahan yang mereka alami. Amin.

Sebelum berangkat menuju sebuah SD tempat dilangsungkannya lomba nyanyi itu, kami singgah sebentar di rumah makan ini sambil minum es campur. Suasana di daerah itu memang sangat ‘indonesia’, di mana-mana banyak bertemu dengan raut wajah dan senyum khas orang Indonesia. Entah di balik senyum itu apakah hati mereka juga tersenyum bahagia? Namun aku yakin senyuman itu mengandung harapan-harapan untuk tetap berjuang di negeri ini. . Tak lama, Ibu pemilik resto mengajak kami naik ke mobilnya bersama dengan dua orang teman lainnya menuju lokasi perlombaan. Lokasinya tidak begitu jauh, dalam beberapa menit kami pun sampai di sana.

Singkatnya, perlombaan menyanyi diadakan di aula yang cukup besar milik SD tersebut. Ternyata seminggu sebelumnya, juga ada perlombaan serupa, tapi pesertanya adalah orang-orang Thailand. Minggu ini diadakan untuk orang Indonesia, dan seminggu kemudian akan diadakan untuk orang Filipina (kemarin-red). Acara hari itu diselenggarakan oleh departemen tenaga kerja Taoyuan County, dan sebuah yayasan bernama Zhongli Fuyin Tuanqi. Ada 23 peserta yang ikut perlombaan itu, sebagian berasal dari tanah jawa, sebagian berasal dari kalimantan. Dari lagu pop, dangdut hingga lagu berbahasa Jawa semuanya ada. Eh, ternyata banyak juga peserta yang menyanyikan lagu mandarin, loh. Mereka yang nyanyi lagu Mandarin rata-rata adalah tenaga kerja yang berasal dari Kalimantan. Kata Pak Pangkuh, kebanyakan mereka bekerja di pabrik. Oh ya, suaranya keren-keren deh, lagu yang dinyanyikan rata-rata lagu lama, mengingatkanku waktu awal-awal masuk sastra Cina UI. Hampir semua lagu mandarin yang dinyanyikan akrab di telingaku. Kami semua yang hadir di situ sebelumnya mengisi buku tamu dan dapat kupon untuk bisa mengambil snack gratis. Kalau gratisan aku biasanya semangat hehe..

Sudah hampir jam 4, kami berniat untuk segera kembali ke Taibei. Kupon itu segera kutukarkan dengan snackbox, tapi panitia yang pakai baju pink bilang harus tunggu setelah acara selesai. Aku merengut, karena waktu itu perutku keroncongan . Ya sudah, apa boleh buat. Tapi pas kita mau keluar, seorang panitia lain mendekati kami dan bicara sebentar dengan si bapak, ia mengucapkan terima kasih kepada bapak yang sudah hadir seraya memberikan empat snackbox untuk kami. Haha..panitia berbaju pink itu yang memberikan snackbox nya. Aku tersenyum senang dan berterimakasih kepada mereka. Pulangnya kami harus jalan ke resto semula tempat singgah pertama kali. Walaupun lapar, aku juga tidak langsung memakan snack itu, hehe..cuma latah ingin lihat apa isi kotak snack-nya.

Oya, selama perjalanan waktu lalu, Fengyao selalu mengajukan berbagai pertanyaan seputar kehidupan orang-orang Indonesia yang bekerja di Taiwan, dari segi sosial maupun religinya. Dari hasil penjelasan yang kami lontarkan padanya, menurutnya ternyata banyak sekali yang tidak diketahuinya tentang itu. Pertemuannya dengan kami kemarin seperti sudah diatur oleh yang di-Atas. Ia pun setuju dengan ungkapan itu. Sesampainya di resto, kami makan sebentar. Aku makan nasi plus lauk-pauk khas Indonesia (*lezaaat*), Mba Zulle makan soto (seger katanya). Pak Pangkuh dan Fengyao makan bakso. Bapak ternyata memesan bakso lagi untukku. Akhirnya setelah nasi kuhabiskan, aku lanjut makan baksonya huehehe..(bapak tahu aja aku lafar hehe). Selain aku, mba Zulle ternyata juga menambah rujak hihi… Setelah makan, kami pun segera beranjak meninggalkan rumah makan, dan pamit kepada suami ibu pemilik resto. Alhamdulillah (*kenyang..*). (not the end)