Archive for the ‘Orang Taiwan’ category

Musim Pindahan

30 Juni 2007

Kalau ada teman Indonesia tanya, di Taiwan sekarang sedang musim apa? Saya akan bilang di sini sedang musim pindahan. Saya tinggal di asrama sekolah, tidak cuma itu, yang tinggal di kos-kosan juga mungkin mengalami hal serupa, banyak teman teman se-kos atau se-asrama yang pindah rumah karena sudah musim panas. Mereka ingin pulang ke kampung halaman masing-masing, ada yang sudah lulus studi, ada yang ingin bepergian lama, ada yang bekerja namun tidak ingin tinggal di asrama, karena di asrama saya kalau musim panas seluruhnya harus pindah kecuali untuk teman-teman dalam kondisi atau identitas tertentu. Iya, harus bayar lagi untuk tinggal selama dua bulan ini.

Karena musim pindahan, tidak sedikit yang menghibahkan barang-barang masih layak pakai nya untuk siapa saja dengan ‘memungutnya’ GRATIS. Yang paling berlebihan di sini ada yang menghibahkan printer. Ditaruh begitu saja di depan kamarnya beserta barang-barang lucu lainnya, lalu dituliskan barang-barang ini boleh diambil termasuk printer merk Lexmark ini. Penghibahan barang-barang itu dibatasi waktu sama mantan empunya, karena mungkin dia sudah harus pindah secepatnya, dan kalau masih tersisa barang-barang itu mungkin akan dibuangnya.

Ini namanya warisan. Saya pun dapat warisan dari seorang teman sekamar saya yang sudah lulus semester ini. Dia akan pindah dan pulang ke kampung halamannya. Warisan folder-folder dan buku tulis, juga alat perlengkapan lain. Ada yang mau? hehe..Sekarang barang-barang di meja dan lemarinya tinggal sedikit, sebagian sudah dikirim ke rumahnya dan ada juga yang memenuhi meja saya sekarang ini hehehe..

Musim pindahan, musim bagi-bagi ‘warisan’. Lain waktu gantian saya yang mewariskan.. ya jika ada yang layak untuk diwariskan.

Iklan

Hujan Deras di Taipei

6 Juni 2007

Baru saja saya menonton TV sambil menyantap nasi putih plus kering tempe teri. Taipei semalam hujan deras, bahkan hingga detik ini, hujan masih mengguyur ‘ibukota’ Taiwan. Padahal, dua hari sebelumnya panas terik dan pengap cuacanya. Namun, Alhamdulillah dua hari ini suhu menurun dengan turunnya hujan. Di berita yang saya tonton tadi, beberapa tempat di Taipei ternyata tergenang air, genangan tertinggi yang saya lihat sekitar selutut orang dewasa, termasuk tinggi jika melihat kondisi kebersihan kota ini bila dibandingkan Jakarta. Masyarakat mengeluh selama hujan deras, mereka hampir tidak pernah mengalami banjir seperti ini. Topik lainnya, pagi tadi seorang artis Taiwan bernama Lin Xiaopei menabrak mati seorang perawat ketika ia mengendarai mobilnya. Dalam kondisi cuaca yang sangat buruk, ia ‘berani’ mengemudi dengan keadaan mabuk. Setelah melalui pemeriksaan, persentase alkoholnya membuktikan dia mabuk berat ketika mengendarai mobil, dan kecelakaan subuh itupun tidak dapat dihindarinya. Ia ditangkap. Perawat tersebut luka parah ketika ditabrak dan akhirnya nyawanya tidak tertolong lagi. “Dui buqi”, kata Lin Xiaopei ketika diusung polisi untuk ditindaklanjuti perkaranya.

Saya teringat kadang orang sini bertanya ke saya mengapa saya tidak boleh minum arak/bir, dan mereka menanyakan kembali kenapa orang Islam melarang minuman haram itu. “Kasihan sekali kamu tidak bisa minum”, kata mereka. Saya tersenyum 🙂

From Malaysia?

1 Juni 2007

Saya berasal dari negara mana,ya? Apa identitas saya? hehe..Sejak hari perubahan itu, banyak peristiwa dan pengalaman menarik serta seruuuu yang saya alami selama menuntut ilmu di sini.

Ketika tamasya ke Green Island (sebelah timur Taiwan), ada orang yang mengira saya biarawati, dan ada yang menduga saya berasal dari Filipina. Awalnya saya kurang tahu kenapa bisa dibilang saya berasal dari Filipina. Ada yang bilang, karena biarawati di Taiwan sebagian ada yang berasal dari Filipina. Oooooh..begitu. Tapi saya bukan biarawati, saya menjelaskan bahwa pakaian yang saya kenakan ini identitas perempuan Islam. Waktu naik sepeda ke kampus, juga ada bapak yang sedang berboncengan melihat saya terus, dan saya lemparkan saja senyum saya ke mereka, ternyata mereka ingin tanya apakah saya biarawati? yaa saya jelaskan saja apakah saya.

Rabu dan kamis kemarin berturut-turut, saya disangka orang Malaysia. hehehe..cukup sering saya mendengar komentar itu. Waktu itu ketika bertemu seorang muslimah asal Jerman. Ia datang untuk berlibur selama dua minggu di Taiwan. Ia berkebangsaan Jerman, keluarganya dulu migrasi dari Macedonia ke Berlin. Saya sering dengar ‘Macedonia’, tapi tidak tahu apa-apa tentang negara itu. Lejla, nama muslimah itu, sekilas saya melihatnya menduga ia ‘a muslim convert’. Setelah bincang2 cukup lama, seluruh keluarganya memang ‘islam by birth’. Pertama kali, ia menebak saya seorang Malaysia. Akhirnya saya berkata ‘ i come from Indonesia’.

Kamisnya, ketika daftar ulang pengajuan asrama di kampus, tiba-tiba ada bapak-bapak petugas dengan cukup yakinnya mengira saya mahasiswa Malaysia. Dia tahu setelah akhirnya saya bilang asal negara saya. Namun ia masih menebak2 lagi apakah saya ‘overseas chinese’, saya jawab bukan. “Wah, kalau kamu tidak pakai penutup kepala, kamu terlihat seperti overseas chinese atau orang Taiwan loh”. Ya, ia bisa bilang begitu mungkin karena mendengar saya berbahasa Mandarin.

Masih ada lagi cerita-cerita dan pengalaman excited lainnya..to be continued.InshaAllah 🙂

gadis kasir di kantin asrama

25 Januari 2007

Saya tinggal di asrama sekolah yang jauh dari sekolah. Sekolah kami memiliki dua kampus, kampus pusat dan kampus cabang namanya. Nah, asrama yang saya huni berada di kampus cabang, kalau naik sepeda ke kampus utama sekitar 15 hingga 20 menit dengan speed normal lho! 🙂

Suatu hari, saya berniat beli nasi putih di kantin yang terletak di lantai satu gedung asrama kami. Ketika saya mau bayar nasi yang seharga 6 NT itu (sekitar Rp.1800), si gadis kasir melihat sambil bertanya: “Kamu bukan orang Taiwan ya?”, “Bukan” jawabku. “Lalu orang mana?”,sambungnya. “Saya orang Indonesia”.”Ooo”..dia manggut-manggut seraya mengembalikan 4 koin 1 NT-an kepada saya. Saya balik ke kamar saya di lantai 10 dengan muka senyam-senyum sendiri hehehe..masakan saya seperti orang Taiwan, mudah-mudahan di waktu mendatang ada muslimah Taiwan atau mana saja yang memakai kerudung identitas muslim.

Kemarin, di tempat yang sama dan membeli barang yang sama, si gadis kasir dari kejauhan senyum melihatku. Saya balas senyumannya. Saya ambil sendiri plastik dan nasi putih di meja dekat kasir itu, lalu berniat membayar ke gadis kasir itu. Dia bersuara lagi:  “Eh, dulu kamu bilang berasal dari mana?” ternyata dia lupa saat itu. “Indonesia”, jawabku. “Kok bisa bicara Mandarin? Memang sekarang banyak orang bicara Mandarin di Indonesia ya?Kamu dulu pernah belajar Mandarin berapa lama?”,tanyanya. “Saya dulu lulusan sastra Cina, saat ini banyak orang tertarik Mandarin di Indonesia tapi masih belum banyak, namun lama-kelamaan pasti akan banyak karena sekarang Mandarin sudah menjamur. Mereka tertarik ingin belajar Mandarin karena mungkin hubungan Cina-Indonesia dalam ekonomi semakin maju atau hanya ingin karena tuntutan pekerjaan”. Pertanyaan berikutnya yang tak diduga-duga adalah: “Indonesia negaranya bagaimana?apakah miskin?apa bedanya dengan Taiwan? Saya belum pernah ke Indonesia. Setahu saya Indonesia adalah negara kepulauan”. Saya merasa perlu bercerita panjang lebar tentang negara saya, untuk sementara hanya mencoba menjawab pertanyaan dia seperti ini: “Indonesia negara besar, penduduknya 10 kali lebih banyak dari penduduk Taiwan, terdiri dari lebih 13 ribu pulau dengan area yang jauh lebih besar dari Taiwan. Tidak semua orang di Indonesia miskin.” Entah pertanyaan nya yang tentang miskin itu dilihat dari pendapatan perkapita penduduk atau sumber daya alamnya. Saya lupa menyelipkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam, hanya saja penduduknya sebagian masih dalam hidup miskin karena kesenjangan sosial di negara saya sangat mencolok tidak seperti negeri Taiwan ini. Setelah mendengar jawaban singkat saya itu, si gadis tampak kaget dan tak mengira Indonesia memiliki penduduk serta wilayah yang besar.

Sepertinya dia ingin mengobrol banyak denganku tapi ada cowok yang ingin bayar makanannya, aku pun pamit berkata semoga bisa bincang-bincang lagi di waktu lain. We’ll see next time. 🙂